Apabila seseorang mengambil air. Lalu air itu kecampuran susu, bubur sawiq,[1] madu lalu air itu menjadi larut di dalamnya, maka air itu tidak boleh dibuat wudhu. Karena air larut di dalamnya. Air ini disebut air bubur sawiq, air susu, air madu, air yang tercampur.
Apabila benda cair berupa bubur sawiq, susu, madu itu sedikit lalu dilempar ke dalam air dan benda cair itu larut di dalamnya sedangkan warna air itu jelas dan tidak ada rasa benda cair yang dilempar tadi maka air tersebut boleh dipakai berwudhu karena ini masih disebut air. Begitu juga air boleh dipakai berwudhu apabila ada benda seperti makanan dan minuman, dan lain-lain yang tercampur ke dalam air kecuali apabila airnya menetap di dalam benda itu.
Apabila air menetap di tanah kemudian berbau atau berubah, ia boleh dipakai berwudhu karena masih bernama air. Berbeda halnya apabila air itu tercampur dengan benda lain seperti air itu tercampur dengan air mawar kemudian tercium bau mawar yang dominan maka tidak boleh dipakai berwudhu karena air itu sudah larut dalam air mawar. Karena air itu sudah jelas. Sedang air mawar itu tidak.
وَإِنْ أَخَذَ مَاءً فَشِيبَ بِهِ لَبَنٌ أو سَوِيقٌ أو عَسَلٌ فَصَارَ الْمَاءُ مُسْتَهْلَكًا فيه لم يُتَوَضَّأْ بِهِ لِأَنَّ الْمَاءَ مُسْتَهْلَكٌ فيه إنَّمَا يُقَالُ لِهَذَا مَاءُ سَوِيقٍ وَلَبَنٍ وَعَسَلٍ مَشُوبٌ
وَإِنْ طُرِحَ منه فيه شَيْءٌ قَلِيلٌ يَكُونُ ما طُرِحَ فيه من سَوِيقٍ وَلَبَنٍ وَعَسَلٍ مُسْتَهْلَكًا فيه وَيَكُونُ لَوْنُ الْمَاءِ الظَّاهِرُ وَلَا طَعْمَ لِشَيْءٍ من هذا فيه تَوَضَّأَ بِهِ وَهَذَا مَاءٌ بِحَالِهِ وَهَكَذَا كُلُّ ما خَالَطَ الْمَاءَ من طَعَامٍ وَشَرَابٍ وَغَيْرِهِ إلَّا ما كان الْمَاءُ قَارًّا فيه
فإذا كان الْمَاءُ قَارًّا في الْأَرْضِ فَأَنْتَنَ أو تَغَيَّرَ تَوَضَّأَ بِهِ لِأَنَّهُ لَا اسْمَ له دُونَ الْمَاءِ وَلَيْسَ هذا كما خُلِطَ بِهِ مِمَّا لم يَكُنْ فيه وَلَوْ صَبَّ على الْمَاءِ مَاءَ وَرْدٍ فَظَهَرَ رِيحُ مَاءِ الْوَرْدِ عليه لم يَتَوَضَّأْ بِهِ لِأَنَّ الْمَاءَ مُسْتَهْلَكٌ فيه وَالْمَاءُ الظَّاهِرُ لَا مَاءُ الْوَرْدِ
CATATAN:
[1] Bubur sawiq adalah makanan yang dibuat dari tepung gandum atau biji-bijian.



0 comments:
Poskan Komentar